Desa Kalirejo Salaman Kembangkan Agro Eduwisata Pertanian Kolosal

Pertanian Desa Kalirejo Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang memiliki karakteristik unik, yakni memadukan kearifan lokal dengan wisata alam sawah. 


Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang Ade Sri Kuncoro Kusumaningtyas mengatakan corak itu pula yang menjadikan desa wisata yang resmi dibuka oleh Bupati Magelang Zaenal Arifin pada 2017 ini mendapat bantuan dari Kementerian Pertanian melalui Dirjen Pangan sebesar Rp180 juta untuk pengembangan Agro Eduwisata (AEW), mulai dari budi daya tanaman, ternak, budaya dan spot swafoto di puncak bukit GG.


Berjarak 12 km dari Candi Borobudur, puncak Bukit GG menawarkan pemandangan menawan. Pengunjung dapat melihat hamparan sawah unik berbentuk terasering di antara gugusan perbukitan Menoreh. Sesekali kabut menutupi sebagian area sawah dan ladang hutan Menoreh ini. 


“Dari 59 lokasi yang diajukan tahun 2020, Desa Kalirejo yang terpilih mendapat bantuan karena sudah ada embrio wisata itu,” kata Ade saat ditemui Sabtu (17/4/2021).


Dijelaskan Ade, penerapan pertanian di lereng Menoreh ini menerapkan sistim tadah hujan. Secara turun temurun pola pertanian kolosal itu dipertahankan melalui pengolahan tanah ekstra demi menjaga kelembaban tanah. Produktivitas pertanian Desa Kalirejo setiap musim mampu bersaing dengan daerah lain.

Bersama Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang jenis padi yang ditanam pada musim kali ini adalah varietas Mikongga. 


“Luas lahan pertanian tadah hujan yang sukses panen raya mencapai 40 hektar lebih,” ungkapnya.
Ladang sawah yang subur itu menjadi berkah bagi warga Desa Kalirejo. Sebagai wujud syukur kepada Tuhan, warga rutin menggelar tradisi wiwitan setiap menjelang panen padi. Hasil panen padi itu kemudian dijual dan sebagian lagi mereka simpan dalam lumbung sebagai tabungan mengantisipasi musim paceklik. 

Sementara itu, Kasi Kesra Desa Kalirejo Sutajib mengungkapkan selain tanaman padi, sekitar 1.570 kepala keluarga dari 5.000 jiwa lebih warga Desa Kalirejo juga akrab dengan bahan pangan tradisional dari umbi-umbian seperti berut, gembili, nasi jagung dan lain lain.


“Semua bahan makanan alternatif yang biasa disebut warga setempat polo kependem itu menjadi sajian menu khas bagi wisatawan bukit GG,” jelas Sutajib.


Ia menambahkan, kini Desa Kalirejo juga menjadi desa wisata penyangga pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Candi Borobudur dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.


Berkat sinergi BUMDes, kelompok tani, dan Pokdarwis Margo Mulyo Desa Kalirejo menata lokasi Bukit GG kini lebih cantik dengan tambahan wahana jembatan bambu sepanjang 40 meter, spot selfi di sawah, saung gubuk di antara tanaman padi. Selain itu wisatawan juga dapat belajar ternak kelinci, dan pembuatan aneka suvenir di antara puluhan homestay yang sudah tersedia.


“Berkat adanya program Eduwisata dari Dinas Pertanian Kabupaten Magelang wilayah Desa Kalirejo terus berkembang,” imbuh Sutajib seraya berharap AEW Desa Kalirejo lebih dikenal dunia luar, terlebih untuk warga perkotaan yang merindukan suasana, kenyamanan pedesaan, dikelilingi perbukitan Menoreh dan keramahan warga masyarakatnya.