Janari, Objek Wisata Berbasis Pertanian Di Lereng Merbabu

Penampilan seni beladiri Pencak silat pemuda Dusun Gatran Desa Gondangsari Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang, saat soft launching desa wisata Janari, Senin (29/3/2021)

BERITAMAGELANG.ID – Para pemuda lereng gunung Merbabu tepatnya di Dusun Gatran Desa Gondangsari Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang mulai membangun desa wisata yang menonjolkan edukasi dan budaya nenek moyang Jawa. Mereka menamakan desa wisatanya dengan “Janari” yang merupakan akronim dari Jaga Alam Dan Nikmati Alam Yang Lestari.

“Kami namakan Janari yang diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya muda. Karena desa wisata ini didirikan pionir-pionir muda desa setempat,” kata Tri Handoyo, Ketua Panitia Soft Launching Desa Wisata Janari, Kecamatan Pakis, Senin (29/3/2021).

Tri Handoyo mengatakan, latar belakang pendidikan pemuda setempat 80 persen adalah SLTA sederajat dan sisanya perguruan tinggi. Dari yang 80 persen ini, rata-rata kembali lagi ke ladang atau bertani. 

“Jadi meski kami muda-muda namun tidak malu untuk bercocok tanam atau nyangkul di sawah. Sebab kami banyak menerima informasi, bahwa para pemuda saat ini sudah tidak mau lagi terjun ke sawah, berlepotan dengan lumpur. Namun justru kami ingin mempertahankan tradisi dari nenek moyang kami,” kata Handoyo.

Di sisi lain, karena melihat banyak potensi di desanya, maka terbersit untuk menjadikan desa ini sebagai desa wisata. Beberapa unggulan yang bisa dijadikan daya tarik wisata, imbuh Handoyo, adalah pembuatan makanan tradisional seperti sego jagung atau nasi jagung. Bagaimana memroses jagung sehingga bisa dijadikan nasi jagung.

Selain itu wisatawan yang datang bisa melihat dari dekat pertanian lokal, kesenian tradisional yang masih terjaga. Juga yang kini lagi trend adalah edukasi kopi. 

“Jadi wisatawan yang datang akan kami sajikan makanan dari ketela, kimpul, midro dan hasil olahan dari bahan-bahan itu. Juga minuman tradisional seperti jahe serai dan teh trasan atau teh hijau,” ujarnya.

Bahkan di dusun ini, imbuh Handoyo, ada satu kelebihan yang kemungkinan tidak dimiliki oleh dusun-dusun lainnya. Yakni hampir seluruh penduduknya merupakan pendekar Pencak Silat. Dari anak-anak hingga orang tua, laki-laki dan perempuan, hampir seluruhnya mahir bela diri pencak silat. 

“Sehingga dusun kami juga dinamakan dusun pendekar,” imbuhnya.

Kepala Desa Gondangsari, Pawit Widodo mengaku salut dengan ide serta gagasan para pemuda setempat dusun Gatran, yang mampu menggerakkan menjadi desa wisata. Ia berharap desa wisata ini bisa berkelanjutan dan warganya bisa hidup sejahtera dan makmur.

Ia juga mengapresiasi atas pendampingan dari Pemkab Magelang juga TNGM dan Institute For Research and Empowerment (IRE), sehingga terbentuk desa wisata Janari di Dusun Gatran Desa Gondangsari.

Dina Mariana, Deputi Bidang Sosial Budaya IRE mengatakan, bahwa sebagai lembaga riset dan pemberdayaan masyarakat yang konsen di isu-isu desa, ia melihat bahwa desa harus berdaya untuk bisa memanfaatkan peluang. Setelah mendampingi Desa Karangrejo Borobudur, tahun ini ia beralih ke lereng Merbabu tepatnya di Pakis.

Enam bulan lalu, imbuh Dina, IRE baru melakukan pemetaan dan berencana membangun kawasan Pakis yang bisa untuk prospek produksi pertanian dan pemasaran. Namun karena pandemi Covid-19, semua menjadi terbatas dan belum bisa menjangkau level kawasan. 

“Namun ada potensi lain yang akhirnya bikin kami fokus, dan ketemulah kami dengan teman-teman pemuda petani Dusun Gatran Gondangsari. Ini sangat luar biasa, karena mereka sangat bersemangat,” katanya.

Dina memandang bahwa pertanian bukanlah basis utama dan satu-satunya sumber penghidupan lain. 

“Ternyata orientasi pemuda di sini memang bertani yang terjun langsung ke sawah. Mereka tidak mau kalau kawasannya hanya dijadikan desa wisata namun hilang mata pencaharian mereka sebagai petani. Maka kami berpikir desa ini dijadikan desa wisata berbasis pertanian. Sehingga mereka tetap tidak kehilangan mata pencaharian. Justru para petani ini akan mengedukasi wisatawan bagaimana cara bertani yang ekologis. Ini menjadi kelebihan mereka,” tutur Dina.

Yang sangat diapresiasi oleh IRE, imbuh Dina, bahwa pemuda petani di sini ingin mengampanyekan kepada para pemuda lainnya, untuk lebih mencintai tanah pertanian, karena di banyak tempat hal itu sudah banyak ditinggalkan, karena dianggap tidak mampu menyejahterakan. 

“Mereka ingin menumbuhkan semangat bertani,” jelasnya.

Acara soft launching dilaksanakan cukup meriah meski tamu yang diundang terbatas karena masih pandemi Covid-19. Di sini ditampilkan kesenian tradisional Soreng, kemudian drama musikal yang menggambarkan keseharian masyarakat di desa yakni kehidupan petani ke ladang, juga penampilan seni beladiri Pencak Silat.

Tamu undangan juga diajak untuk melihat proses pembuatan nasi jagung sejak dari menghaluskan menggunakan lumpang sampai mengukus. Juga diajak melihat kebun tanaman kopi sampai proses pengeringan biji kopi hingga menjadi kopi siap saji. Yang menarik dari edukasi ini adalah beberapa proses yang masih tradisional. Tamu juga mencicipi nasi jagung dengan lauk urap, gereh dan juga kerupuk gendar.